Home » » Penurunan Nilai-nilai Moral

Penurunan Nilai-nilai Moral


Melihat perkembangan anak didik sekarang, bikin hati kita makin miris, dan bikin perut jadi murus. Bagaimana tidak? Setingkat anak-anak MI, mereka sudah tak lagi mengenal tata bahasa jawa yang penuh dengan nilai sopan santun dan etika. Setingkat MTs. Kita bisa melihat kecenderungan mereka untuk menirukan apa saja yang mereka lihat di televisi, terutama tentang pergaulan anak muda-mudi yang gaul dan keren. Para artis dan model menjadi tuntunan bagi mereka, yang kemudian itu berakibat pada merosotnya akhlaq para remaja sekarang ini.
Setingkat SMAI, kecenderungan mereka adalah berkelahi dan pacaran. Dua hal ini seolah menjadi trend wajib yang harus mereka ikuti. Bahkan yang membuat miris lagi, mereka berani mencium pacarnya dipinggir jalan di dekat sekolah dengan berpakaian seragam. Ironisnya yang perempuan yang masih sekolah di tingkat MTs tampak begitu bangga dan senangnya setelah dicium. Tak ada rasa malu, menyesal apalagi marah. Subhanaallah.
Lalu dimana peran sekolah dalam membangun karakter siswa, membangun aklaq mereka? Seolah tidak ada sangkut paut dunia pendidikan dengan akhlaq seorang anak. Berangkat dari ilustrasi di atas penting bagi kita untuk segera mencari problem solving secara mendasar. Menyelesaikan masalah sampai ke akar-akarnya.
Rincian masalah : bahwa telah terjadi degradasi moral yang sedemikian dahsyat pada generasi penerus bangsa yang membutuhkan uluran tangan kita untuk segera menyelesaikan permasalah ini, atau setidaknya menghambat laju degradasi tersebut.
Apa sebenarnya penyebab masalah ini muncul?
Yang pertama adalah kinerja orang tua dalam mendidik dan membimbing putra-putrinya. Keluarga sebagai lingkungan utama dan pertama bagi manusia, hendaknya bisa menciptkan lingkungan yang baik, sehingga anak yang dihasilkan pun juga akan baik. Karena buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Ketidak matangan jiwa orang tua, seringnya adalah ibu, dimana mereka menikah pada usia muda, dan belum siap secara kejiwaan untuk mendidik anak, sibuknya mereka dalam mencari nafkah menjadi penyita waktu untuk memperhatikan anak. Bisa dibilang seharian penuh mereka pergi bekerja, terutama mereka yang petani. Dan ketika malam mereka sudah keletihan, akibatnya anak pun terabaikan.

Yang kedua adalah lingkungan masyarakat. Kasuistik, ada seorang yang terhormat melakukan perbuatan tercela dan memalukan. Ini menjadi hantaman keras bagi nilai moral dalam lingkungan di masyarakat. Karena secara tidak langsung para pemuda memandang, seorang yang terhormat saja melakukan hal tercela, tentu mereka merasa tidak masalah jika dia juga melakukannya. Para remaja seperti kehilangan panutan dalam lingkungannya.
Yang ketiga adalah lingkungan sekolah, dimana mata pelajaran yang berkaitan dengan akhlaq mendapatkan jam pelajaran yang sangat sedikit, kalah dengan mata pelajaran yang diunaskan. Setiap hari mereka dicekoki dengan pelajaran itu, dan ironisnya lagi kepala sekolah dan guru pun menjadi beranggapan bahwa pelajaran itulah yang paling penting, sehingga sisi akhlaqnya terabaikan. Katakanlah materi PKn, hanya ada 2 jam pelajaran, begitu juga dengan akidah akhlaq. PKN sendiri pembahasannya sudah terpecah menjadi dua hal, yaitu hal yang berkaitan dengan kenegaraan dan kepribadian. Jadi sudah tidak specifik ke wilayah kepribadian lagi. Begitu juga dengan Aqidah Akhlaq, ada aqidah dan ada akhlaq, sehinnga penekanan pada akhlaqnya juga menjadi berkurang.
Mungkin,
Masalah tersebut dapat segera diatasi dengan :
1. Menyamakan persepsi antara pihak sekolah dengan wali murid dalam hal pendidikan anak, terutama pada akhlaqnya;
2. Menambah mata pelajaran khusus yang membahas tentang akhlaq. Terutama disini yang kami maksud adalah kitab-kitab salafi. Karena walau bagaimana pun kitab salafi seperti punya atsar yang berbeda dengan buku biasa, ini penting bagi output yang ingin dihasilkan. Pada tingkat MI kita bisa menggunakan akhlaq lil banin juz I dan II. Pada tingkat MTs. Juga akhlaq lil banin juz III dan IV, dan ta’limul muta’allim pada tingkat SMA.
3. Dan apalagi jika, sekolah mengadakan program plus. Yakni menambah waktu 2 jam pasca sekolah pagi, untuk dilanjutkan dengan materi-materi diniyyah. Yang di dalamnya diisi dengan pelajaran-pelajaran agama dan dilakukan dengan menggunakan kitab salaf. Dan siswa pulang setelah jamaah shalat ashar.
4. Dan atau bisa juga dilakukan dengan pemisahan antara pelajaran umum dan pelajaran agama, waktu pagi untuk pelajaran umum, dan siangnya diisi dengan materi keagamaan.
Dengan pengelolaan yang sedemikian rupa, kami yakin ini akan menjadi menu lezat para para pelajar.

2 komentar:

Post a Comment