Home » » Refleksi Ahir Tahun YPPWH

Refleksi Ahir Tahun YPPWH

Perjalanan YPPWH (Yayasan Pondok Pesantren Wasilatul Huda) ini adalah sebuah kisah perjuangan, dimana para pendirinya yang terdiri dari Kyai dan semua lapisan masyarakat, bercita-cita mengembangkan agama (i’laai kalimatillah). Dan kini kita menghadapi masa, dimana sebuah tatanan mengalami perombakan sistem, baik secara keYAYASANan, maupun secara sosio-kulturalnya.
Dulu ketika alm. KH. Muhsan Salim masih sugeng, semua orang bisa langsung sendiko dawuh terhadap apa yang dikatakan beliau, ditunjang dengan kepribadiannya yang memang seorang leader sejati. Sehingga perjalanan organisai bisa berjalan stabil dan terus berkembang. Jadi bisa dikatakan faktor figuritas menjadi penopang berjalannya YAYASAN.

Sepeninggal beliau ke rahmatullah, kini YAYASAN bisa dikatakan mengalami masa transisi. Dari kepemimpinan figur, menuju kepemimpinan kolektif. Dimana setiap kebijakan dan seterusnya harus berdasarkan kepada keputusan bersama yang sesuai dengan aturan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

Disana telah diatur job description untuk masing-masing personal kepengurusan dan tentunya besertaan dengan hak, wewenang dan kewajiban.

Semua berjalan dengan baik setiap hari, mulai dari RA sampai SMAI, dari TPQ sampai majelis ta’lim. Demikianlah jika sekilas kita melihatnya. Akan tetapi jika kita dalami, sebenarnya berjalan dalam berjalan dengan kata sanes, jalan di tempat. Apa sebenarnya yang terjadi?
Kalau kita mau jujur, belum semua bidang kepengurusan berjalan dengan baik. Mulai dari ketua umumnya, hingga pengurus hariannya. Dari kejauhan kita bisa melihat, bahwa masa ini memang harus kita lewati, dan seiring dengan berjalannya waktu, akan menemukan format yang tepat bagi perjalanan YAYASAN kita.
Tengoklah seorang ketua harian misalnya, selama ini diakui atau pun tidak belum mampu membawa YAYASAN pada format yang tepat, di mana kepala-kepala unit diberikan wewenang yang sedemikian luas, sehingga pada suatu saat YAYASAN ingin mengendalikan unit, seperti kehilangan powernya. Selain itu, dalam pengambilan segala kebijakan, sang ketua masih terkesan ragu dan penuh dengan rasa sungkan (yang menurut saya tidak perlu begitu berlebihan). Kenapa? Karena pada masa ini, kita harus mengedepankan profesionalitas kinerja, bukan figuritas atau berdasar pada siapa orangnya.
Berapa kali berkunjunng ke RA, atau ke MI apalagi ke SMAI? Jari satu tangan saya rasa sudah lebih. Ini bukan tentang menjudge seseorang, tetapi lebih pada kinerja. Ini akan menjadi sesuatu yang menghambat kemajuan YAYASAN. Semua harus tertata sedemikian rupa, profesional, sesuai dengan kapasitas. Tidak kurang dan jangan dilebihkan.
Lihat juga, bagaimana perjalan majelis ta’lim yang katanya dikelola oleh YAYASAN. Apakah berjalan majlils ta’limya? Berjalan. Namun jika kita lihat, majlis ta’lim sebenarnya berjalan karena ke-amanah-an orang yang menjalankannya, dan bisa dikatakan setahun sekali melakukan koordinasi dengan YAYASAN. Bagaimana YAYASAN memandang hal ini? Bukankah sebenarnya, majelis ta’lim ini bisa kita maksimalkan, sehingga visi dan misi yayasan bisa terengkuh dari sisi majelis ta’limnya. Ataukah justeru visi misi-nya kita yang tidak jelas. Bukan visi misi itu jika tidak kita rangkai dengan kegiatan, tujuan dan target yang jelas akan menjadi jauh panggang dari api? Meski membuahkan hasil, pasti tak akan mencapai 30 persennya.
Di bidang pendidikan formalnya, pernahkah YAYASAN memperhatikan bagaimana proses sampai output yang dihasilkan dari lulusan RA, MI, MTs dan SMAInya? Jawabannya sudah, tetapi belum dilakukan secara intensif, sistematis dan apalagi berkelanjutan. Semua berjalan mengalir, tanpa ada target yang jelas.
Dari RA ke MI, masih sering dan tidak bisa dibilang sedikit yang belum bisa membaca. Ataukah memang lulusan RA tidak ditargetkan untuk bisa membaca? Disinilah pentingnya peran YAYASAN, mengawal persoalan demi persoalan yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan di dalam yayasan. Agar target bisa tercapai.
Ada banyak kelebihan dan peluang yang dimiliki yayasan untuk bisa menjadi organisasi besar dan profesional, dengan profesionalisme yang bagus. Mengutip dari pernyataan pak Wahyudi, bahwa yayasan kita ini adalah yayasan besar, sudah waktunya dijalankan dengan manajemen yang mapan juga.
Dan begitu juga seterusnya, apa target yang ingin dicapai pada output MTs dan SMAInya? Mungkin memang sudah mengarah kesana, namun kekurang intensifan dalam pengawalan inilah yang menjadi kendala. Kenapa pengawalan ini penting? Karena tidak mungkin target kita capai tanpa sebuah hambatan dan persoalan, komunikasi yang massif antara pimpinan unit dan ketua yayasan penting (kalau tidak boleh dikatakan wajib) untuk dilakukan. Dari komunikasi itu bisa, kita temukan problem solvingsnya. Sehingga out put tidak sedemikian jauh dari target.
Pendidikan formal belum tertangani dengan baik, bagaimana lagi dengan pendidikan non formalnya? Selama ini, pendidikan non formal, TPQ dan MADIN belum berjalan secara kolektif, meskipun penggeraknya sendiri adalah para pembina. Bukan berarti yayasan secara kolektif lepas tangan tanpa ada perhatian.
Adanyanya perjanjian kerja untuk para guru formal, adalah sebuah kemajuan yang tidak bisa kita nafikan. Ini adalah awal menuju gerbang profesionalisme. Dimana aturan ditegakkan, dan yayasan mempunyai power di mata anggotanya. Meskipun pada pelaksanaannya, ini belum bisa mendongkrak 100% keaktifan guru, setidaknya ini sudah memperoleh hasil, dan menciptakan main set, bahwa kita harus serius melaksanakan tugas kita ini. Dan Profesionalitas adalah wujud keikhlasan.
Selain itu, centralita keuangan yang rencananya akan dimulai pada awal semester dua ini (2012), juga merupakann langkah besar dalam perjalanan yayasan kedepannya, karena dengan pengelolaan central ini, yayasan bisa mengalokasikan dana dengan lebih bijaksana, jika ada unit yang kekurangan dana, bisa segera di atasi oleh yayasan.
Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi penulis, membutuhkan tanggapan pemikiran dari para saudara yang berada di lingkungan YPPWH, demi tumbuh kembangnya pemikiran-pemikiran untuk membangun yayasan ke depan.
Oleh : Abu Rafa El Rahman

0 komentar:

Post a Comment