Home » » In Memorium, Perempuan Matahari

In Memorium, Perempuan Matahari

oleh : Haris Suhud

Mbah Kah, begitu kami memanggilnya. Nama aslinya adalah Amsikah.  Beliau telah mangkat meninggalkan keluarganya; anak, cucu, dan generasi muda yang selalu beliau harapkan. Beliau adalah istri dari Kyai Salim, the founding father Yayasan Pesantren Wasilatul Huda Dukoh Kidul. Sebagai seorang perempuan, andil perjuangannya bersama suaminya tidak bisa dianggap remeh. Beliau sangat memperhatikan moral generasi muda. Hal itu bisa dilihat bagaimana beliau sangat tidak suka jika melihat anak muda bersemangat “mlempem”.

Pernah suatu saat kami dimarahi habis-habisan oleh beliau ketika  masih di bangku  MI (Madrasah Ibtidaiyah) di Yayasan Pesantren Wasilatul Huda. Waktu itu, saya dan teman-teman bermain kejar-kejaran di dalam mushola. Beliau yang berwatak keras langsung menegur kami ketika melihat kami “guyonan” di dalam musholla. “Ojo playon neng njero langgar. Langgar iku gunane gawe sembahyang, ora digawe panggon dolanan” katanya. 
Beliau tak pernah lelah untuk memberi arahan kepada generasi muda. Dalam hal marah memarahi, beliau tidak pilih kasih—apakah itu anak pejabat atau anak orang biasa—semuanya digasak habis. Bahkan cucunya sendiri pun jika dianggap salah maka beliau tidak enggan untuk memarahi. Begitulah beliau, sosok yang keras dalam mendidik generasi muda agar menjadi orang yang baik, yang selalu ia harapkan menjadi penerus alim ulama penyambung ilmu pada generasi berikutnya. Dalam  pribadi kerasnya itu, sebenarnya merupakan bukti perhatian beliau akan pentingnya mendidik manusia agar menjadi pribadi yang istimewa dalam kehidupan di hari kelak. Tapi sejatinya, dalam hatinya tetaplah tersimpan kasih sayang yang mendalam kepada siapapun.
 Menurut beliau pendidikan agama itu sangat penting. Beliau terbilang sukses dalam mendidik putra-putranya. Tak ada satupun dari sekian banyak putranya yang menjadi sampah masyarakat, mereka menjadi orang yang bermanfaat dalam lingkungan dimana mereka hidup. 
Ketika saya berkunjung di kediamannya beliau selalu memberikan cerita-cerita inspiratif tentang pentingnya belajar ilmu agar menjadi orang  yang berakhlak baik dan berwawasan luas. Beliau selalu memberi motivasi untuk terus belajar ilmu agama secara intens. Untuk memberi inspirasi kepada kami, biasanya beliau sering menceritakan kembali perjuangan beliau mendidik putra-putranya di pondok pesantren dengan harta yang sangat terbatas. Sebagai bukti, hasil perjuangannya menjadi nyata seperti apa yang dapat kami dilihat; semua putranya  menjadi orang hebat berkat kegigihannya dalam berjuang mendidik anak agar menjadi manusia yang bermanfaat untuk umat.
Selain itu, beliau sebagai orang tua, sering menggambarkan semangat orang-orang dahulu yang menuntut ilmu. Oleh sebab itu, beliau sangat ingin generasi sekarang meniru orang-orang dulu yang mempunyai kobaran api semangat di hati mereka. Inilah mungkin yang menjadi dasar mengapa beliau sering marah jika melihat anak muda yang bersemangat “mlempem” seperti yang saya katakan di atas.
Kini beliau telah pergi. Jasadnya telah hilang meninggalkan dunia, tapi semangatnya  menjadi lembaran-lembaran ilmu yang kiranya dapat menjadi contoh untuk kita, serta kepedulianya terhadap moral generasi muda, dan semangatnya yang membara.
Sebagai ucapan terima kasih, marilah kita mendoakan beliau agar sampai ke dalam pelukan rahmat tuhan. Semoga Allah swt menidurkan ia dalam surga kenikmatan kasih sayang. 
source : http://morpiss.blogspot.com/2011/12/in-memorium-perempuan-matahari.html

1 komentar:

Post a Comment