Home » » Mari Budayakan Menulis (Part II)

Mari Budayakan Menulis (Part II)

Mari Budayakan Menulis (Part II)


Pada tulisan saya yang pertama kemarin, tentang “menulis” bagian I, saya harap pembaca tidak kecewa dan malas untuk membaca artikel yang ke dua ini. Jika ada yang kurang berkenan di hati, ada sanggahan atau ada ejekan, jangan di tahan, tulis saja di kotak komentar yang tersedia, saya dengan senang hati akan menerimanya.

Baiklah, sekarang mari kita lanjutkan. Kali ini mari kita lebih spesifikkan lagi pembahasan kita. Kalau kemarin saya mengajak anda hanya untuk segera menulis, sekarang mari kita tentukan kita ingin menulis apa.

Bila anda merasa belum cukup ilmu dan wawasan untuk menulis tentang hal yang kaitannya dengan keilmuan, pilihlah tulisan yang berupa karya seni. Karena di dalam seni tidak ada sekat-sekat keilmuan, yang ada hanyalah imajinasi. Bisa berupa puisi, cerpen, cerbung atau bahkan novel.
Pada obrolan kali ini mari kita spresifikkan ke dalam hal menulis cerpen. Untuk menulis cerpen. Baiklah, mari kita bahas satu per satu tahapan dalam menulis cerpen.
  • Gambaran umum jalan cerita
Pastikan sebelum anda memulai menulis cerpen, anda sudah memiliki gambaran umum tentang jalan ceritanya. Sebagai contoh “ Kisah ini akan menceritakan ketulusan seorang istri dalam mengabdi pada suami, namun sang suami tak pernah mengindahkan pengabdiannya”. Atau bila cerpen tersebut bertema remaja, misalnya “Kuatnya jalinan sebuah persahabatan antara beberapa remaja pria, yang menghadapi cobaan dengan datangnya seorang perempuan cantik di antara mereka”.  Atau mungkin anda sudah memiliki gambaran cerita yang lebih indah dari pada ke dua contoh di atas.
  • Menentukan Judul 
Bila anda sudah memiliki gambaran cerita, pasti dengan sendirinya anda bisa menentukan judul cerita. Mengapa judul cerita ini harus ditentukan di depan? Karena Judul inilah yang akan menjadi batas-batas jalannya cerita, agar tidak terlalu melebar. Mengingat ketika kita sudah mulai berimajinasi, terkadang imajinasi kita tak terkontrol melebar kemana-mana dan bisa saja berakibat blunder, yakni dimana cerita tidak memiliki klimaks yang wow.
Langkah berikutnya tentukan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Tidak hanya nama, tapi juga perwatakan mereka juga harus sudah anda tentukan juga, agar dalam berinteraksi di dalam cerita tersebut, masing-masing tokoh menunjukkan karakaternya. Dan tentu saja harus ada tokoh yang berwatak kontra, agar jalan cerita makin asyik dan tidak monoton. Ada yang berperan protagonis dan ada yang berperan antagonis.
Semakin banyak permasalahan di dalam cerita, menurut saya semakin bagus, dan itu akan bermanfaat bagi berjalannya tulisan kita. Bila sebuah cerita itu berjalan tanpa ada permasalahan, tentu saja pembaca akan bosan dan jenuh.
Jadi sebisa mungkin paragraf demi paragraf yang tertulis, makin membuat pembaca selalu ingin tahu kelanjutan ceritanya.

  • Menentukan setting waktu

Setting waktu ini penting, agar cerita bisa lebih hidup. Karena yang penting bagi anda juga adalah membangun imajinasi para pembaca, agar seolah-olah cerita ini real. Terkait dengan hal ini ada beberapa teman saya yang mengatakan bahwa mereka lebih suka membaca novel dari pada menonton filmnya. Karena dengan membaca, kita bebas berimajinasi membayangkan lokasi cerita, watak tokohnya dan juga perilaku tokohnya.
Bahkan, mereka yang sudah membaca sebuah cerita dari novel, banyak yang merasa kecewa setelah menonton film yang di angkat dari cerita tersebut.
  • Menentukan setting tempat
Misalnya cerita yang anda buat ini di lingkungan pedesaan, kota, pesantren, kerajaan atau juga kampung terpencil. Dan sebisa mungkin anda menggambarkan lokasi dengan kalimat-kalimat yang deskriptif. Sehingga hal ini bisa membangun imajinasi pembaca.

  • Lakukan sekarang juga, karena belum tentu esok ada waktu bagi kita untuk berkarya.

0 komentar:

Post a Comment